ARTIKEL

Jumat, 11 Juli 2008

Iklan dan Rokok


Rokok memang menjadi sumber pendapatan pajak bagi pemerintah Indonesia dan juga sebagai penyumbang penyebab penderita jantung. Rokok sebagai penyebab sebuah penyakit yang kronis jarang sekali disorot, karena nilai sumbangsih materinya sangat besar. Saat ini diperkirakan empat persen rata-rata pendapatan per kapita rakyat Indonesia dihabiskan untuk mengonsumsi rokok. Pengeluaran yang cukup besar ini sudah pasti akan menurunkan tingkat kesejahteraan keluarga.
Namun begitu, pemerintah juga mendapatkan pemasukan cukai rokok. Pada 2001 pemasukan dari sini sebesar Rp 17,6 triliun, meningkat menjadi Rp 22.3 triliun pada 2002, dan pada 2003 ditargetkan penerimaan dari cukai rokok sebesar Rp 26 triliun. Jumlah target perdapatan cukai dari rokok ini sebenarnya tidak sebanding dengan biaya ekonomis yang harus diemban oleh masyarakat dan negara karena berbagai penyakit akibat rokok. Diperkirakan pada 2002 biaya yang dikeluarkan untuk menanggulangi berbagai penyakit akibat rokok berkisar Rp 90 triliun (Republika, 21 Juni 2005). Ini menggambarkan bahwa sebenarnya pendapatan pemerintah dari cukai rokok sangat kecil dibandingkan kerugian kesehatan dan ekonomis yang harus dikeluarkan akibat menanggulangi dan mengobati penyakit yang muncul akibat merokok. Menurut laporan WHO 2002, di antara negara-negara industri yang menganggap merokok adalah hal umum, merokok diestimasikan 90 persen menyebabkan kanker paru-paru pada pria, dan sekitar 70 persen menyebabkan kanker pada wanita. Di negara-negara industri ini sekitar 56-80 persen adalah penyakit pernafasan kronis dan sekitar 22 persen penyakit kardiovaskular. Di seluruh dunia tembakau dapat menyebabkan sekitar 8,8 persen kematian (4,9 juta) dan sekitar 4,1 persen menyebabkan penyakit (59,1 juta). Jika kecenderungan ini tidak berbalik, maka angka-angka tersebut akan meningkat hingga 10 juta kematian per tahun mulai tahun 2020, atau pada awal 2030, dengan 70 persen kematian terjadi di negara-negara berkembang. Peristiwa semua itu tidak dimunculkan dalam iklan rokok.
Pengusaha rokok sering tutup mata pada anak-anak (usia 6-12 tahun) sebagai konsumen penikmat iklan rokoknya. Padahal, anak-anak belum tahu bagaimana rokok bisa merusak organ tubuh mereka. Mereka hanya tahu bahwa merokok adalah sesuatu yang dapat meningkatkan nilai emosional mereka, seperti sajian iklan rokok yang tertayang di televisi, full colour dan konsepnya yang sangat menarik. Bahkan seringkali tiap tahun dalam penghargaan insan iklan (citra adipariwara), iklan-iklan rokok merajai pesta iklan tersebut. Mereka memenangi ajang tersebut dengan konsep iklannya yang entertainment dan komunikatif. Padahal penelitian menyebutkan data yang 'mengerikan' mengenai kondisi para anak-anak berseragam merah-putih, alias masih sekolah dasar mereka sudah banyak mengenal aktivitas merokok.
Kondisi ini bisa dipahami, karena 15 tahun lalu, hasil penelitian Peneumobile (1989) di Jakarta dan Surabaya sudah menunjukkan bila 17,83 persen laki-laki yang merokok telah mencoba merokok pada usia di bawah delapan tahun, 35 persen pada usia 8-11 tahun dan 47,17 persen pada usia di atas 11 tahun. Sementara para perempuan yang merokok, 29,2 persen telah memulainya ketika berusia di bawah delapan tahun, 32,36 persen pada usia 8-11 tahun dan 38,43 persen pada usia di atas 11 tahun (Media Indonesia, 12 Juni 2001).
Televisi sebagai media pembawa iklan rokok memang memiliki beberapa kelebihan dibanding media-media iklan lainnya Kata televisi berasal dari kata “tele” yang berarti jauh dan “visi” yang berarti penglihatan. Segi “jauh”-nya dilakukan dalam bentuk gambar hidup (motion picture). Para Pemirsa tidak akan mungkin menikmati siaran televisi tanpa adanya prinsip-prinsip gambar yang ditranmisikan oleh stasiun pemancar. Dengan daya unsur siaran dan gambar inilah televisi memiliki daya tarik yang kuat pada pemirsanya. Onong Uchajana Effendy menyatakan tentang daya tarik televisi ini sebagai berikut :”...Televisi mempunyai daya tarik yang kuat disebabkan oleh unsur-unsur audio yang berupa suara dan visual yang berupa gambar hidup dan menimbulkan kesan mendalam pada pemirsanya” (Effendy, 1996: 200). Televisi adalah perpaduan radio (broadcast) dan film (moving picture), para penonton di rumah-rumah tidak mungkin menangkap siaran televisi bila tidak ada unsur-unsur radio, dan tidak mungkin melihat gambar-gambar yang bergerak pada layar jika tidak ada unsur-unsur film.
Propaganda dan iklan rokok dikemas sedemikian menarik. Secara global, industri tembakau seluruh dunia mengeluarkan lebih dari US$ 8 miliar setiap tahun untuk iklan dan pemberian sponsor sebagai ajang utama promosi. iklan-iklan rokok tampil dengan citra-citra yang mencerminkan produknya, khalayak sasarannya atau perusahaannya. Ide-ide kreatif yang muncul di balik tekanan-tekanan tersebut ternyata malah membuat iklan-iklan rokok lebih sukses dalam mempengaruhi orang untuk merokok. Pendekatan emosional yang digunakan oleh pengiklan sangat cocok untuk mempengaruhi orang untuk merokok, karena kebutuhan untuk merokok juga bersifat emosional. Permasalahan menjadi kian mengkhawatirkan tatkala barang ini dari tahun ke tahun semakin mudah diakses anak-anak.
Survei yang dilakukan Universitas Padjadjaran (1978) melaporkan usia pertama kali merokok pada anak kala itu adalah 12 tahun. Sebelas tahun kemudian, penelitian Universitas Airlangga (1989) melaporkan fakta baru bahwa angka 12 itu telah bergerak ke angka delapan tahun. Terbaru, penelitian yang dilakukan bersama antara Universitas Andalas, Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Padjajaran, usia anak pertama kali merokok telah menyentuh angka tujuh tahun. Di Indonesia, perusahaan rokok besar berlomba-lomba memberikan sponsor pada kegiatan olahraga, acara remaja, dan konser musik. Dalam promosinya, rokok diasosiasikan dengan keberhasilan dan kebahagiaan. Peningkatan drastis konsumsi tembakau para remaja terjadi pada 2001 yang mencapai 24,2% dari semula 13,7% pada 1995. Persentase peningkatan itu terjadi pada remaja laki-laki 15-19 tahun yang kemudian menjadi perokok tetap.
Anak-anak mempunyai jiwa serba ingin tahu dengan dorongan yang tinggi untuk mengetahui realitas, mempunyai unsur-unsur yang berbeda pula dalam “menanggapi” suatu obyek (realita), sesuai dengan faktor personal dan faktor situasional dalam diri mereka. Ketika anak-anak menonton televisi pun, mereka akan memberikan penilaian sendiri sesuai dengan faktor yang mendominasi dalam diri mereka, sesuai pengalaman yang telah diterimanya. Anak-anak masih belum memiliki pengalaman dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menerima secara kritis pesan dan maksud dibalik iklan. Menurut CH.Buhler dalam buku “Ilmu Djiwa Kanak-Kanak”, mengungkapkan tentang anak-anak, Anak-anak pada fase keempat ( 9-13 tahun), mempunyai dorongan ingin maju, dorongan mengetahui realitas mencapai tingkatnya yang tinggi. Sang anak sekolah dibanjiri dari luar oleh berbagai macam perangsang dan peristiwa-peristiwa yang sangat mempengaruhinya. (Hamzah, 1996 : 38).

Selasa, 08 Juli 2008

Mitos: Mengapa program yang berkualitas berating rendah?

 

AC NIELSEN

 

Beberapawaktu yang lalu, koran-koran ibu kota mengangkat isu mengenai program televisi yang berkualitas bagus tetapi memperoleh rating dan share penonton yang rendah. Berdasarkan survei secara kualitatif yang dikelola Yayasan Science Etika Teknologi (SET), Kick Andy (Metro TV), Liputan 6 (SCTV), Si Bolang (TRANS7) dan Metro Realitas (Metro TV) dinilai sebagai program yang berkualitas tinggi oleh 191 responden berlatar belakang pendidikan tinggi yang “peduli mengenai program TV dan mumpuni untuk menilai secara kritis” di 11 kota besar di Indonesia. Namun, program-program tersebut dikatakan memiliki rating yang lebih buruk dibandingkan program-program sinetron yang mendominasi jam tayang utama. Pada titik ini, rating seringkali dituduh sebagai penyebab stasiun TV menyiarkan program berkualitas rendah.

 

Tulisan ini dimaksudkan untuk meluruskan pemikiran di antara kritik-kritik mengenai rating. Pertama-tama, tidak ada hubungannya antara angka rating kuantitatif (yang semata-mata menghitung jumlah penonton) dengan kualitas program. Kualitas program yang tinggi tidak selalu berhubungan dengan rating yang rendah atau sebaliknya. Kedua, hasil penelitian SET yang mengeluarkan ranking program berdasarkan kualitas tidak bisa dibandingkan dengan hasil survei AGBNielsen yang mengeluarkan ranking program berdasarkan jumlah penonton. Hal ini dikarenakan metode yang dipakai berbeda (metode kualitatif versus kuantitatif) , responden yang terlibat berbeda (’pemerhati TV’ versus masyarakat umum), tipe program yang disurvei berbeda (SET hanya menilai beberapa program berita, talkshow dan hiburan, sementara AGBNielsen mensurvei semua jenis program), dan masih banyak lagi.

 

Tulisan berikut akan lebih fokus pada bagaimana sebenarnya kita menilai rating sebagai “tinggi” atau “rendah”? Apakah rating 1% selalu dianggap lebih buruk daripada rating 5%? Apakah yang menjadi acuan untuk mengatakan bahwa rating 5%, sebagai contoh, tinggi atau rendah? Penilaian ini tergantung pada beberapa faktor, seperti paruh waktu, target pemirsa, tipe program, dll. Dengan demikian, artikel ini tidak akan membicarakan sisi kualitatif dari program yang “berating rendah”, tetapi interpretasi mengenai tinggi-rendahnya rating dari program yang disebut sebagai program berkualitas tinggi. Rating selalu berhubungan dengan: 

 

Jam tayang

Jumlah pemirsa potensial yang dapat diraih oleh stasiun-stasiun TV beragam berdasarkan pada jam tayangnya. Program yang disiarkan pada siang hari (12.00-15.00) atau malam hari (22.00-24.00) akan bertemu dengan potensi pemirsa yang lebih sedikit daripada program yang ditayangkan pada jam tayang utama (18.00-22.00) . Selama bulan Januari-24 Mei, pada jam tayang utama, terdapat 12 juta potensi pemirsa yang menonton program TV yang ditawarkan, sementara hanya 5 juta orang pada siang hari dan 7 juta penonton pada malam hari.

 

Berdasarkan top program berkualitas di atas, mari kita telusuri lebih dalam mengenai ratingnya, contohnya Si Bolang yang tayang pada siang hari (12.20-13.00) . Dengan target pemirsanya yang anak-anak (5-14 tahun), mari berfokus pada target tersebut. Selama Januari sampai 24 Mei 2008, di antara 11 stasiun TV nasional, terdapat 13,6% potensi anak-anak atau sekitar 1,2 juta anak-anak yang menonton pada pukul 12.30 sampai 13.00. Total populasi TV pada target pemirsa ini adalah 8,7 juta orang. Dengan potensi tersebut, masing-masing stasiun TV seharusnya mendapatkan 1,2 poin rating atau sekitar 100 ribu anak-anak. Selama periode ini, rating Si Bolang adalah 2,8 atau ditonton sekitar 239 ribu anak-anak. Rating ini lebih tinggi daripada rata-rata rating yang bisa diperoleh oleh masing-masing stasiun. Apakah kemudian bisa dianggap rendah? 

 

Contoh lain adalah Kick Andy yang tayang pada malam hari (22.00-23.00) . Berdasarkan AGBNielsen, pada periode yang sama, penonton Kick Andy adalah laki-laki berumur di atas 30 tahun yang berasal dari kelas atas. Pada jam tayang tersebut, ada 21,1% atau 549 ribu penonton yang potensial dari target pemirsa tersebut yang bisa diraih oleh 11 stasiun TV nasional, sementara populasi TV target pemirsa ini berjumlah 2,6 juta. Dengan demikian, setiap stasiun TV mempunyai peluang untuk memperoleh 1,9 poin rating atau sekitar 50 juta orang, sementara Kick Andy memperoleh 2 poin rating selama periode tersebut; sedikit lebih tinggi daripada rata-rata rating yang bisa diperoleh. Sebagai perbandingan adalah Metro Realitas (10.30 to 11.00). Selama jam tayang, potensi dari target pemirsa yang sama adalah sebesar 19,9% atau 518 ribu orang. Pada jam tayang ini, setiap stasiun TV bersaing untuk mendapatkan rata-rata 1,8 poin rating atau kurang lebih 47 ribu orang, sementara Metro Realitas memperoleh 1,2 rating point atau 30 ribu orang; lebih rendah daripada rata-rata rating yang dapat diperoleh. Tinggi atau rendahnya analisis rating ini akan menunjukkan hasil yang berbeda pada target pemirsa yang berbeda. Karenanya ada analisis rating berdasarkan target pemirsa. 

 

Target pemirsa

Kick Andy, sebagai contoh, tidak dapat dibandingkan dengan Si Bolang karena mereka memiliki target pemirsa yang berbeda, selain jam tayang yang juga berbeda. Kick Andy bisa mendapatkan 2 poin rating dan 0,5 poin rating pada waktu yang bersamaan. Karena Kick Andy dapat dilihat dari berbagai sudut padang, rating 2 menunjukkan jumlah penonton pada target pemirsanya yang laki-laki di atas 30 tahun dari kelas atas. Pada sisi yang lain, program ini hanya memperoleh rating 0,5 pada penonton anak-anak yang bukan target pemirsanya. Sebaliknya, Si Bolang memperoleh rating 2,8 pada target pemirsanya (anak-anak 5-14 tahun), namun hanya berating 1 pada target pemirsa laki-laki kelas atas di atas 30 tahun, yang bukan merupakan target pemirsanya. Manakah yang rendah? Dan manakah yang tinggi? 

 

Bahkan Liputan 6 memiliki penonton yang berbeda di antara program-programnya yang tayang pada pagi, siang, sore dan malam hari. Liputan 6 Pagi dan Liputan 6 Malam kebanyakan ditonton oleh laki-laki, sedangkan Liputan 6 Siang dan Liputan 6 Petang biasanya ditonton oleh perempuan. Bagaimana dengan ratingnya? Liputan 6 Pagi memperoleh rating 1,2 atau sama dengan 31 ribu penonton laki-laki kelas atas berumur di atas 30 tahun, sedangkan Liputan 6 Malam ditonton oleh 66 ribu laki-laki dari kelas menengah atas berumur di atas 20 tahun atau berating 0,9. Sementara di antara penonton perempuan, Liputan 6 Siang ditonton oleh 118 ribu penonton dari kelas menengah atas yang berusia di atas 40 tahun atau berating 2,7 dan Liputan 6 Petang ditonton oleh 107 ribu penonton berusia 40 tahun ke atas dari kelas menengah atau berating 4. Seperti halnya Kick Andy dan Si Bolang, Liputan 6 juga akan memperlihatkan angka yang berbeda saat dianalisis pada target pemirsa yang berbeda. Bagaimana pun, analisis harus disesuaikan dengan target pemirsanya. 

 

Periode analisis 

Periode penayangan program juga akan menggiring kita kepada analisis yang berbeda, apakah analisis dilakukan hari ini, kemarin, minggu lalu, selama triwulan pertama, dll. Di antara penonton laki-laki kelas atas berumur di atas 30 tahun, Kick Andy mungkin hanya memperoleh rating 0,7 hari ini, tapi di minggu lalu perolehan ratingnya mencapai 3,9. Atau mendapatkan rating 2 di bulan Januari, sementara 2,4 di bulan Februari. Contoh lainnya, Si Bolang yang ditayangkan setiap hari memperoleh rating rata-rata 3,5 pada minggu lalu (18-24 Mei). Namun rating rata-ratanya lebih rendah (2,9) pada minggu sebelumnya (11-17 Mei). Dengan demikian, periode analisis akan berpengaruh pula pada rating yang dihasilkan dari survei ini. 

 

Tipe program

Berita, informasi, acara anak-anak, musik, dan program-program lainnya juga akan memberikan analisis yang berbeda. Selain berbeda jam tayang dan target pemirsa, program berita tidak dapat dibandingkan dengan program anak-anak. Pada top program berita di antara mereka yang berpendidikan terakhir universitas, Liputan 6 Petang memperoleh rating tertinggi ke-dua (2,9) setelah Seputar Indonesia (3) selama Januari sampai 24 Mei. Pada target pemirsa yang sama, Kick Andy 2nd Anniversary memperoleh rating tertinggi (2,4) di antara program informasi talkshow. Pada periode yang sama, Si Bolang memperoleh rating tertinggi ke-dua (2,8) setelah Laptop Si Unyil (2,9) di antara program edukasi anak pada target pemirsa anak-anak. Tetapi, program ini hanya memperoleh rating 1 jika dianalisis pada target pemirsa yang berpendidikan terakhir universitas. 

 

Karenanya penilaian atas tinggi rendahnya rating perlu mempertimbangkan poin-poin tersebut diatas.*** 

Kamis, 03 Juli 2008

Kekerasan TV dan Anak

Kekerasan yang dilakukan oleh anak-anak menjadi sorotan utama di media massa. Apa yang menimpa anak-anak terkesan layak publikasi dan laris di pasaran. Misalnya, heboh soal perebutan hak asuh anak-anak selebriti yang melakukan gugatan cerai, trafficking anak-anak, pengemis anak-anak, anak jalanan terlantar dan perilaku smack down anak-anak merenggut korban. Persoalan anak selalu menarik bagi para orang tua. Persoalan pengasuhan, perawatan anak dan kekerasan adalah topik aktual. Bagimana orang tua menentukan pola asuh anak, bersikap anak, dan bagaimana mendidik terbaik sebagai perhatian orang tua. Anak merupakan buah hati, tumpuan hidup dan kebanggaan orang tua. Sedapat mungkin para orang tua ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anak mereka. Alih-alih orang tua memanjakan anak dengan membebaskan anak menikmati televisi, video game, playstation, justru yang terjadi anak menjadi korban dari tayangan smack down. Dilema ini membuat orang tua seperti kecolongan akan dampak negatif televisi.Sebagian orang tua memosisikan televisi sebagai pengasuh, guru, kawan, sekaligus orang tua bagi anak-anak. Televisi telah masuk ke kamar-kamar anak-anak dan menjadi teman bermain anak mulai bangun tidur sampai tidur lagi. Bagaimana menyikapi fenomena anak yang kian mencontoh perilaku kekerasan di televisi?Smack down adalah tayangan bernuansa kekerasan. Smack down merupakan aksi adu otot, saling tinju dan pukul antara manusia, memicu anak meniru. Perilaku meniru (sifat imitatif) bagi anak-anak adalah wajar di usia perkembangan anak. Anak membutuhkan model untuk mereka tiru. Menurut anak, apa yang mereka lihat di televisi adalah orang hebat dan terkenal. Lalu, anak meniru perilaku smack down di televisi agar dianggap sebagai orang hebat. Anak-anak belum bisa berpikir jernih, apakah perilakunya berbahaya bagi dirinya dan juga orang lain. Anak mencoba menirukan apa yang mereka saksikan. Anak hanya memikirkan kesenangan dan bagaimana memamerkan kekuatannya ke orang lain.Anak-anak sangat senang pamerkan kekuatannya di depan orang tua, teman dan orang lain yang mereka temui. Dunia anak-anak penuh sensasi, mereka senang mencoba hal-hal baru. Perilaku memicu anak mencoba meniru tayangan smack down dari televisi, maka anak sering melakukan perilaku smack down di dunia nyata anak untuk memamerkan kekuatannya ke orang lain. Smack down anak-anak telah menuai korban, seperti anak menderita sakit patah tulang, terkilir, terluka bahkan meninggal dunia.Biasanya, anak melakukan smack down bersama kawan-kawannya saat istirahat di sekolah, di tempat bermain. Bahkan ada juga anak-anak penggertak (bully) melakukan tindak kekerasan terhadap anak lain untuk menekan, mengintimidasi dan melukai. Anak-anak dengan sifat penggertak memiliki cirri-cirisebagai berikut, bertubuh lebih besar dari usia sebaya, senang menyaksikan orang lain ketakutan, mengadu kekuatannya dengan adu otot dan saling memukul, menendang ke anak yang lebih kecil.Bagaimana jalan keluar agar anak-anak tidak melakukan kekerasan smack down? Pertama, masyarakat mesti ikut mengkontrol acara televisi agar menghentikan tayangan kekerasan. Anak-anak tidak bisa dibiarkan menyaksikan kekerasan setiap saat. Menjelaskan ke anak-anak agar tidak menonton smack down tidaklah mudah, apalagi bagi anak-anak yang terbiasa melihat televisi. Untuk itu, peran masyarakat mengkontrol dan ikut berpartisipasi menentukan ragam acara di televisi perlu dilakukan. Orang tua dan masyarakat perlu melakukan kritik terus menerus terhadap acara pertelevisian yang ada. Jika, masyarakat hanya bersifat pasif, maka akan terjadi tayangan yang merugikan masyarakat.Kedua, Orang tua memerlukan banyak kesabaran untuk mendampingi anak melihat televise. Pendampingan orang tua saat anak menonton televise perlu dilakukan. Orang tua mesti sebanyak mungkin bersama dan mendampingi anak saat melihat televisi. Setelah melihat bersama, para orang tua bisa berkomunikasi dengan anak tentang dunia anak, bagaimana imajinasi mereka setelah melihat filim di televise. Orang tua perlu bercerita dan mempengaruhi anak untuk menanamkan nilai agama dan budaya setempat. Orang tua perlu mengcounter nilai-nilai yang terdapat di filim, muatan smack down yang penuh dengan kekerasan, kebebasan, kapitalisme, kepongahan, kesenangan hiburan dengan nilai-nilai agama yang syarat dengan kelembutan, kesederhanaan, kebaikan dan kesejahteraan bagi sesama.Ketiga, Pemerintah perlu memberikan kebijakan bagi pihak pertelevisian untuk memberikan batasan, mana konsumsi tontonan umum, mana tontontan khusus bagi orang dewasa. Tanpa aturan, maka televisi hanya akan menjadi biang sampah bagi masyarakat memicu melakukan kekerasan. Kebijakan memberikan batasan bagi program televisi sudah banyak dilakukan di luar negeri, seperti Amerika Serikat. Tidak semua orang bisa menonton acara film untuk orang dewasa. Ada tarif khusus atau kode tertentu yang hanya bisa diakses oleh orang tua dengan merahasiakan kode nomornya terhadap anak-anak di bawah umur.

Selasa, 10 Juni 2008

Preman Sadar


Be a Man


Bikin Naskah Iklan


Dalam Dunia Periklanan, seseorang yang fungsinya menulis berbagai jenis naskah (teks) iklan untuk kemudian dicetak atau dimuat di media cetak atau diperdengarkan di radio atau televisi disebut “Penulis Naskah Iklan” atau yang lebih populer dalam bahasa Inggris, copywriter. Kalau teks iklan tersebut berbentuk screenplay, yaitu sejenis drama atau dialog untuk dimuat dimedia elektronik, dalam bahasa Inggris penulis itu disebut scriptwriter atau Screenwriter.
Seorang copywriter memerlukan mitra yang mempunyai keahlian dibidang pembuatan gambar dan layout. Mitra copywriter ini disebut Art Director atau Visualizer yang dalam istilah Indonesianya adalah pengarah seni. Sesungguhnya seorang copywriter tidak hanya dituntut untuk bisa menulis naskah iklan untuk media cetak. Namun, juga naskah iklan untuk media elektronik khususnya radio dan televisi. Teknik penulisan untuk media cetak dan media elektronik tentu saja berbeda. Yang satu untuk dipendengarkan (media elektronik). Gaya bahasa untuk media elektronik tentu adalah gaya bahasa lisan atau yang disebut dalam bahasa Inggris colloquial. Dalam proses produksinya, naskah iklan untuk media cetak tentu untuk dicetak. Teks iklan berupa bahasa bahasa yang direkam biasanya memerlukan soundeffect.

Setelah beberapa tahun, seorang pembuat iklan membutuhkan beberapa aturan, hukum. Karena, masyarakat saat ini yang terorganisir menjadi semakin bergantung dengan aturan-aturan komunikasi.
Masyarakat kita telah bergeser dari masyarakat yang berair dangkal dan aman ke masyarakat komunikasi yang luas. Sangat tak terpikirkan bahwa suatu peristiwa, seseorang, atau suatu penemuan bisa mendapatkan arti penting tanpa perhatian dari media. Jadi apakah terlalu berlebihan jika kita mulai menyusun aturan-aturannya?


Bentuk atau isi: Manakah yang bisa membuat copy-an lebih efektif?

Psikologi dan komunikasi menjadi maju karena padatnya aktifitas manusia, seperti dua gunung berapi kembar yang merubah tatanan alam. Selama proses pematangan yang berlangsung sekitar 200 tahun terakhir, psikolog dan komunikator telah mengabaikan ikatan yang mereka butuhkan untuk mendominasi pikiran di abad 21: Psikolog bukanlah seorang komunikator yang baik dan komunikator adalah sandaran yang terbaik dari seorang psikolog.

Aturan Pemikiran Mikro
Dimulai dengan harapan bahwa untuk menjadi suatu kesatuan yang terus-menerus diawali dari bahasa psikologi ke komunikasi. Ditambah dengan pembentukan aturan-aturan bahwa seorang pembuat iklan yang baik dapat merasakan tetapi tidak mempunyai kemampuan untuk mengorganisasi bentuk.
Kita terlambat untuk hal ini. Alasannya adalah tali dari komunikasi massa telah ditarik dan disentakkan oleh individu-individu yang mengenali dan merasa nyaman dengan teknik-teknik komunikasi, tetapi tidak memberikan status yang sama terhadap arti kata dan bunyi kata. Arti bunyi dan kata tidaklah semudah linguistik dan philologi, studi kata.
Pemujaan, terutama di dalam komunikasi seni yang terarah, telah menjadi medium bukan pesan. Beginilah mengapa seorang penulis atau seorang artis membangun portfolio, yang mengarah pada pekerjaan yang berpenghasilan tinggi; begitulah siklus di dalam menciptakan iklan yang bagus berlanjut.
Apakah suatu iklan menarik? Siapa yang peduli? Yang penting iklan tersebut bagus, kan?


3 aturan kunci untuk bahasa yang unik

Untuk dapat mengetahui masa depan, kita harus berjuang dengan membawa dan mengobservasi 3 aturan kunci berikut ini:
Mengenalkan kata yang ”maxim” (Maksimal)
Dan kata-kata yang spesifik, netral, kata-kata yang tidak mempunyai arti seperti membutuhkan, kualitas, bentuk, dan
Kata Perintah dan Kata Penjelas (dan jangan terlalu banyak penggunaan kata yang berlebihan)

Berkarya dengan Nurani


Dalam wacana seni apakah itu seni rupa, seni musik, seni gerak dan cabang seni lain, sering digunakan kata rasa. Rasa adalah daya penggerak dan pewarna tingkah-laku dan kreasi kita. Bila perasaan sedang jernih, pekerjaan akan dilakukan dengan senang hati. Ketika seorang penari beraksi dengan rasa yang mantab dengan penghayatan penuh, maka akan terpancarlah energi atau dinamisme dari tarinya itu, dan akan mempengaruhi pemirsanya. Orang Bali mengatakan bahwa penari itu memancarkan taksu.
Rasa akan sesuatu (kebahagiaan, kepedihan, keterharuan, cinta, ketakutan) disampaikan melalui cara-cara yang berbeda, dengan pengiasan yang beragam seberagam individu-individu dan komunitas-komunitas yang ada. Bahkan dalam satu komunitas pun selalu terdapat kecenderungan-kecenderungan yang bersifat pribadi. Kecenderungan ini sangat tergantung pada bagaimana ia berfikir. Namun demikian perlu dipahami bahwa berfikir itu tidak melulu berpusat di otak, berfikir itu bergulir di keseluruhan tubuh melalui jaringan hormon dan enzim. Sifat kimiawi dari hormon dan enzim itu juga tergantung pada bagaimana kita memandang dan mempersepsi dunia yang melingkupi kita. Tentang ini Deepak Chopra, seorang dokter medis yang mengaplikasikan pula ayurveda dalam menangani pasien-pasiennya, memaparkan via bukunya Quantum Healing tentang bagaimana otak mengubah non-materi (ide-ide, pikiran, atau rasa) menjadi materi yang dalam ini substansi kimiawi yang berupa lapisan lemak atau kelenjar yang mengandung tanda-tanda yang sangat kompleks untuk dibaca oleh otak.[i] Pikiranlah yang selalu sibuk mengartikan segala sesuatu yang dicerap melalui perabaan, penglihatan, pendengaran, penciuman, atau pencecapan.
Salah satu sensuist terbesar sepanjang sejarah manusia modern – sarjana, penulis genius kelahiran akhir abad ke-19 di Alabama USA, Hellen Keller, penderita buta, tuli, dan (akhirnya juga) bisu akibat penyakit keras yang dideritanya di usia dini, berfikir hanya dengan indra perabaan dan pendengaran. Berfikirnya hanya dengan meraba dan membaui.[ii] Bagi dia membau dan meraba sama dengan membaca dan berfikir.[iii] Sebagai contoh, Helen Keller mengatakan bahwa dengan membau seseorang, ia dapat mengungkap jenis ‘pekerjaan’ yang sedang dilakukan. “Bebauan kayu, besi, cat dan obat-obatan yang melekat pada baju seseorang ... Ketika seseorang melintas secara cepat dari satu tempat ke tempat lain, saya mendapat suatu impresi bau tentang dari mana ia datang – apakah dari dapur, taman, atau rumah sakit.”[iv]
Jadi berfikir itu tidak sebagaimana yang sering dibayangkan oleh orang modern, yang dikira hanya berlangsung di dan dengan otak melulu. Dulu, dalam berbagai bahasa di Nusantara orang menggunakan kata rasa untuk menyatakan sesuatu yang banyak orang sekarang menggunakan kata pikir, misalnya orang di Jawa, Bali, dan Sulawesi Utara. Hanya dalam beberapa dekade terakhir sajalah sekarang kata ‘pikir’ mulai dipakai menggantikan kata ‘rasa’. Seperti orang Inggris I think, banyak orang memakai kata pikir. Mitos modernitas secara salah sering mengajarkan bahwa pemahaman dengan pikiran lebih superior daripada rasa.
[i] Deepak Chopra, Quantum Healing, (New York: Bantam Books, 1990).
[ii] Diane Ackerman, A Natural History of Senses, (New York: Vintage, 1991).
[iii] Helen Keller dilahirkan di Alabama, USA, meninggal dalam usia 87 tahun. Karena tuli ia tidak dapat membuat suara yang dapat dimengerti. Itulah yang membuat orang tuanya bingung dan tidak tahu harus berbuat apa. Beruntung mereka mendapat bantuan dari seorang pakar yang telah berhasil mengajar bicara bagi orang yang tuli, pakar itu adalah Alexander graham Bell. Atas saran Bell pulalah orang tua Helen mempekerjakan seorang guru bernama Anne Sullivan, 20 tahun, untuk mengajar Helen. Anne Sullivan juga menderita kebutaan namun membuktikan dirinya sebagai seorang guru yang berbakat. Anne mengajari Helen nama benda-benda dengan cara menekankan huruf-huruf pada tangan Helen. Ia mengajar Helen berbicara dengan cara merasakan vibrasi-vibrasi pada tenggorokan Anne. Ternyata Helen sangat berbakat dan cerdas. Dengan bantuan sekolah-sekolah khusus di New York dan Boston, ia belajar membaca dan menulis dalam huruf Braille. Akhirnya ia memperoleh gelar sarjana, dan ia pada akhirnya dapat membantu banyak orang yang bernasib sama seperti dia. Helen Keller memnjelajar sampai ke beberapa negara memberi kuliah. Ia berkomunikasi – membaca bahasa tanda – dengan tanda-tanda sentuhan jari tangan pada telapak tangan. Ia telah menulis beberapa bku, salah satunya adalah Kisah Hidupnya, yang dipublikasi pada 1902. Dari kisahnya itu dibuatlah sebuah drama yang memperoleh penghargaan, dan difilmkan oleh Willam Gibson pada 1962.
[iv] Ackerman, 23.